MAKALAH
PENGANTAR PARIWISATA
2015/2016
KELOMPOK IV
KETUA: MAHALANI GITSA
T.
ANGGOTA: - DWI CITTYA
- M. IBNU RAMADHAN
- PELIPI SISANDI
X
(KEPARIWISATAAN II)
KATA
PENGANTAR
Rasa syukur yang dalam kami sampaikan ke hadirat Tuhan Yang Maha Pemurah,
karena berkat kemurahanNya makalah ini dapat kami selesaikan sesuai waktu yang
diharapkan. Dalam makalah ini kami membahas “Membedakan Karakteristik Berbagai
Usaha Daya Tarik Wisata”, salah satu pelajaran yang kami terima dari guru
pembimbing kami.
Makalah ini dibuat dalam rangka memperdalam pemahaman materi ini yang
sangat diperlukan dalam pembelajaran kami saat ini. Dan juga yang terpenting
yaitu untuk memenuhi tugas Pengantar Pariwisata
Tak lupa kami mengucapkan terimakasih kepada guru pembimbing yang telah
membimbing kami dalam penyelesaian makalah ini yaitu, Ibu Upik . Kami juga mengucapkan terimakasih kepada
teman-teman atas kejasamanya.
Kami menyadari bahwa masih sangat banyak kekurangan pada makalah ini. Oleh
karna itu kami mengundang pembaca untuk memberikan kritik dan saran yang
bersifat membangun untuk kemajuan ilmu pengetahuan ini.
Demikian makalah ini kami buat semoga memberikan manfaat.
JAMBI,21 JANUARI 2016
1.1
PENGERTIAN
2.I PRODUK INDUSTRI PARIWISATA
2.2 KARAKTERISTIK PRODUK PARIWISATA
2.3 IMPLIKASI KARAKTERISTIK
PRODUK WISATA TERHADAP STRATEGI
PEMASARAN
2.3.1 Segmenting
2.3.2 Targeting
2.3.3 Positioning
2.3.4 Marketing
mix
2.3.5 Jasa
purnajual
MEMBEDAKAN
KARAKTERISTIK BERBAGAI USAHA DAYA TARIK WISATA
1.1 ada objek wisata,
akomodasi, souvenir shop, pramuwisata, angkutan wisata, biro perjalanan,
rumah makan, dan lain sebagainya. Di samping itu ada wisatawannya sendiri
dengan segala tingkah lakunya. Dimana antara yang satu dengan yang lainnya
saling berkaitan. Mengkaji makna yang terkandung dalam istilah pariwisata harus
dilihat dari perspektif orang menggunakan istilah tersebut. Apapun definisi
yang dialamatkan pada istilah pariwisata tersebut layak dicatat bahwa apabila
kegiatan tersebut tidak mendatangkan wisatawan, maka semua kegiatan itu
dianggap gagal. Tanpa adanya wisatawan yang berkunjung maka kegiatan
pembangunan hotel, pengembangan objek, pengadaan sarana dan prasarana angkutan
tidak berasosisasi pada makna kepariwisataan.Dari dimensi yang berbeda, begitu
ada wisatawan yang mengunjungi objek dan memanfaatkan semua komponen yang dimaksud
maka semua kegiatan itu mendapat label kepariwisataan dan lahirlah istilah
pariwisata. Merujuk pada hal tersebut, dapatlah dikatakan bahwa pariwisata
adalah segala kegiatan dalam masyarakat yang berhubungan dengan wisatawan.
Adapun wisatawan secara konseptual didefinisikan sebagai orang yang mengadakan
perjalanan dari tempat kediamannya untuk tujuan tertentu, bukan untuk mencari
nafkah di tempat yang dikunjungi, tanpa menetap dan perjalanannya
hanya bersifat sementara waktu.
Secara esensi pengertian
pariwisata tidaklah sesederhana itu, tapi merupakan kegiatan yang sangat
kompleks, bersinergi dan berinteraksi dengan aspek-aspek lain dalam kehidupan
masyarakat. Dengan demikian kegiatan pariwisata yang berlangsung dan
diselenggarakan pada suatu daerah maupun negara berimplikasi positif maupun
negatif pada aspek perekonomian, sosial budaya maupun lingkungan hidup di
masyarakat serta negara yang dikunjungi. Seperti dijelaskan
Robert Mc Intosh bersama Shashikant Gupta (dalam Pendit, 2002:34) bahwa
pariwisata adalah gabungan gejala dan hubungan yang timbul dari interaksi
wisatawan, bisnis, pemerintah, tuan rumah serta masyarakat tuan rumah dalam
proses menarik dan melayani para wisatawan dan pengunjung lainnya.
Secara
jelas dapat diihat bahwa pariwisata bukanlah suatu industri yang mempunyai
pabrik dan menghasilkan barang-barang yang secara langsung dapat dikonsumsi
dalam bentuk barang-barang sebagai hasil produksinya. Lebih tepat
pariwisata disebut sebagai aktivitas yang jika dilihat dari aspek ekonomi,
aktivitas tersebut menciptakan permintaan yang memerlukan pemasaran bagi produk
aktivitasnya. Produk yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan jasa pariwisata
masing-masing terpisah, akan tetapi saling melengkapi. Produk-produk tersebut
berupa barang dan jasa, oleh karena itu kegiatan pariwisata lazim disebut
dengan industri pariwisata atau tourism industry.
Industri
pariwisata adalah kumpulan dari macam-macam perusahaan yang secara bersama-sama
menghasilkan barang-barang dan jasa-jasa (goods and services) yang
dibutuhkan wisatawan selama dalam perjalanan dari negara asal ke negara tujuan
wisata. Industri ini tidak berdiri sendiri, tapi merupakan suatu industri dari
serangkaian perusahaan yang menghasilkan produk yang berbeda satu dengan yang
lainnya, berbeda dalam besar perusahaannya, lokasinya, organisasinya, dan
fungsi serta metode yang digunakan dalam pemasarannya.
Seperti
dijelaskan, kalau pariwisata dilihat sebagai suatu industri, maka dalam rangka
model pariwisata sebagai mobilitas spasial berupa kegiatan mengaktualisasikan
perjalanan wisata itu identik dengan pemasaran pariwisata. Lebih jelasnya,
pemasaran pariwisata meliputi sejumlah kegiatan yang maksudnya untuk
mempengaruhi, menghimbau, dan merayu wisatawan potensial sebagai konsumen agar
mengambil keputusan untuk mengadakan perjalanan wisata, disini merupakan produk
yang ditawarkan. Di samping itu, kegiatan pemasaran juga menyediakan
kemudahan-kemudahan agar calon wisatawan tersebut dapat melaksanakan keputusannya,
yaitu untuk mengadakan perjalanan.
Tujuan
akhir dari pemasaran adalah agar orang membeli produk yang ditawarkan. Untuk
itu produk harus dibuat menarik dan agar orang tertarik untuk membelinya maka
produk itu harus tersedia. Untuk keperluan itu produk harus dinilai dengan
uang, sehingga dalam pemasaran juga harus menetapkan harga produk. Pada
dasarnya pemasaran pariwisata adalah usaha yang
dilakukan untuk menarik wisatawan lebih banyak datang, lebih
lama tinggal dan lebih banyak membelanjakan uangnya di suatu destinasi wisata.
Kegiatan-kegiatan seperti itulah yang dirumuskan oleh ahli ekonomi sebagai
pemasaran.
Pemasaran pariwisata (tourism
marketing) sangat kompleks sifatnya karena produk yang ingin
dipasarkan sangat terikat dengan supplier yang
menghasilkannya, instansi, organisasi atau lembaga pariwisata yang
mengelolanya. Untuk memasarkan produk industri pariwisata bukan saja diperlukan
koordinasi, tetapi diperlukan kerjasama yang baik antara organisasi yang
bertanggung jawab dalam pengembangan pariwisata dengan semua pihak yang
terlibat dan berkaitan dengan kegiatan pariwisata. Dalam pandangan Yoety (2005:
1) keberhasilan suatu program pemasaran dalam bidang pemasaran sangat
ditentukan oleh faktor kesamaan pandangan terhadap peranan pariwisata bagi
pembangunan daerah, karena itu sebelum program pemasaran dilaksanakan harus ada
komitmen dari semua unsur terkait bahwa pariwiasata merupakan sektor ekonomi
yang bersifatquick yielding dan merupakan agen of
develoment bagi daerah itu.
Dalam kaitannya dengan
pariwisata, Salah Wahab, L.J. Crampon dan L.M Rothfield (dalam Soekadijo,
1996:218) menjabarkan pemasaran pariwisata sebagai proses manajemen yang
digunakan oleh organisasi-organisasi pariwisata nasional atau
perusahaan-perusahaan kepariwisataan untuk mengidentifikasikan
wisatawan-wisatawan yang mereka pilih, baik yang aktual maupun yang potensial,
dan berkomunikasi dengan mereka untuk menentukan dan mempengaruhi keinginan,
kebutuhan, motivasi, kesenangan dan ketidaksenangan (likes and dislikes) mereka
pada tingkat lokal, regional, nasional, dan internasional, dan untuk merumuskan
dan menyesuaikan produk pariwisata sesuai dengan situasi dengan maksud untuk
mencapai kepuasan wisatawan yang sebesar-besarnya, dan dengan demikian mencapai
sasaran mereka.
Dalam definisi tersebut nampak
jelas bahwa pemasaran merupakan berbagai macam tindakan yang dilakukan
bersama-sama dan kemudian menjadi unsur-unsur pemasaran yang disebut
dengan marketing mix. Dalam industri jasa layanan marketing
mix meliputi: kebijakan product, price, place, promotion,
people, physical evidence dan ada beberapa ahli yang menambahkannya
dengan unsur process dan partnership.
Bertolak pada industri pariwisata
merupakan industri yang berorientasi pada jasa layanan dan mempunyai sifat yang
sangat berlawanan dengan industri barang, sangat subjektif, sertaintangible maka
dengan karakteristik yang dimilikinya tersebut dalam pemasarannya harus
memperhatikan strategi pemasaran dalam artian proses segmenting,
targeting, positioning dan marketing mix haruslah tepat. Berdasarkan
latar belakang tersebut, permasalahan yang akan dibahas dalam uraikan ini
adalah implikasi karakteristik produk wisata terhadap strategi
pemasaran.
II. PEMBAHASAN
2.I Produk Industri
Pariwisata
Meningkatnya jumlah orang yang
melakukan perjalanan wisata, berarti makin banyak tuntutan kebutuhan yang harus
tersedia. Semakin meningkatnya kebutuhan tersebut mendorong pihak yang terlibat
dalam industri pariwisata untuk berupaya menyediakan produk wisata bagi
orang-orang yang melakukan perjalanan wisata. S. Medlik dan Middleton (1973)
menjelaskan bahwa produk industri pariwisata terdiri dari bermacam-macam
unsur yang merupakan satu paket yang satu sama lain tidak terpisah.
Mereka berpendapat ada tiga unsur yang membentuk produk tersebut, yaitu:
1. Objek dan daya tarik wisata
adalah segala sesuatu yang unik pada daerah-daerah tertentu yang menjadi daya
tarik orang-orang untuk datang berkunjung ke daerah tersebut.
2. Fasilitas adalah segala sesuatu
yang diperlukan pada tempat tujuan wisata mencakup sarana pokok, sarana
pelengkap, dan sarana penunjang kepariwisataan.
3. Aksesibilitas adalah
keterjangkauan yang menghubungkan negara asal wisatawan (tourist generating
countries) dengan daerah tujuan wisata (tourist destination area)
serta keterjangkauan di tempat tujuan ke objek-objek pariwisata (local
transportation).
Bila ketiga unsur di atas
dikembangkan sesuai dengan urutannya sejak wisatawan meninggalkan tempat
kediamannya, sampai di tempat tujuan dan kembali ke rumah dimana ia biasanya
tinggal, maka unsur pokok yang membentuk produk wisata terdiri dari:
1. Travel agent dan tour
operator yaitu perusahaan yang, memberikan informasi dan saran,
melakukan reservasi, mengurus tiket dan voucher, pengurusan dokumen
perjalanan seperti pasport, ijin keluar dan visa
serta menyelenggarakan perjalanan wisata.
2. Perusahaan transportasi yaitu
suatu perusahaan yang menyediakan jasa transportasi baik darat, laut maupun
udara yang akan membawa wisatawan dari dan ke daerah tujuan wisata yang telah
ditentukan. Juga termasuk jasa transportasi lokal (bus dan taxi) dalam
melakukancity sightseing, tour, excursion pada objek wisata dan
atraksi wisata setempat.
3. Akomodasi adalah suatu usaha yang
menyediakan jasa penginapan bagi wisatawan di tempat yang dituju selama
berkunjung di sana.
4. Restoran dan bar merupakan tempat
bagi para wisatawan dapat memesan makanan yang lokasinya berada di dalam maupun
di luar hotel.
5. Objek dan atraksi wisata yang
terdapat di daerah tujuan wisata, yang menjadi daya tarik orang untuk datang
serta berkunjung ke daerah tersebut.
6. Souvenir shop, handicraft serta shopping
centre, dimana wisatawan dapat berbelanja untuk membeli oleh-oleh dan
barang-barang kebutuhan atau untuk kenangan.
7. Perusahaan lain yang berkaitan
dengan kegiatan kepariwisataan seperti kantor pos, bank/money changer,
studio foto dan sebagainya.
Menyimak ragamnya produk yang
dihasilkan industri pariwisata tersebut, benar sesuai dengan yang dikatakan
Sihite (2000:56) bahwa keistimewaan dari industri pariwisata jika
ditinjau dari sudut ekonomi adalah bahwasanya produk yang dihasilkannya
terpisah, sedangkan permintaannya tergabung. Hal ini terlihat jelas dalam paket
wisata. Sektor pariwisata tidak sendiri melainkan lintas sektoral, dalam
artinya yang sangat luas yaitu antara instansi pemerintah dan antara
unsur-unsur industri pariwisata. Banyak hal yang memerlukan perhatian dalam
kaitannya dengan pengembangan kepariwisataan di antaranya menyangkut sarana dan
prasarana kepariwisataan.
2.2 Karakteristik Produk Wisata
Produk adalah sesuatu yang
dihasilkan melalui proses produksi. Sedangkan produk dari usaha pariwisata
adalah segala barang dan layanan jasa yang dibutuhkan oleh wisatawan sejak
berangkat meninggalkan tempat kediamannnya, sampai ia kembali ke tempat
tinggalnya. Sebagian besar produk usaha pariwisata adalah jasa atau layanan,
sehingga memiliki karakteristik yang berbeda dengan produk yang dihasilkan oleh
industri yang menghasilkan barang.
Secara
garis besar karakteristik produk usaha pariwisata adalah:
1. Produk wisata dalam arti luas
yang bersifat intangible.
2. Tidak dapat dipindahkan, oleh
karena itu penjualannya tidak mungkin produk itu sendiri dibawa dan ditunjukkan
kepada konsumen, sebalinya pengunjung harus datang langsung ke tempat dimana
produk wisata dihasilkan. Dalam industri barang biasa, hasil atau produknya
dapat dipindahkan kemana barang itu dibutuhkan atau diinginkan konsumen.
3. Proses produksi dan konsumsi
terjadi pada saat yang bersamaan. Oleh karena itu peranan perantara tidak
diperlukan. Satu-satunya perantara yang merupakan saluran (channel) dalam
penjualan jasa industri pariwisata
4. Tidak dapat disimpan atau
ditimbun untuk diakumulasikan seperti pada usaha yang menghasilkan barang
dimana penimbunan merupakan kebiasaan untuk meningkatkan permintaan.
5. Hasil atau produk industri
pariwisata bersifat sangat subjektif, tidak mempunyai standar baku yang
objektif seperti halnya dengan industri barang lainnya yang mempunyai ukuran
panjang, lebar, tinggi dan ukuran lainnya. Dalam industri pariwisata
hanya menggunakan patokan bagus, jelek atau puas tidaknya wisatawan
yang diberikan pelayanan.
6. Permintaan terhadap produk sangat
tidak tetap dan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor non ekonomis. Terjadinya
kekacauan, peperangan, bencana alam akan menyebabkan permintaan terhadap produk
menhgalami penurunan yang signifikan. Akan tetapi, bila masa liburan dengan
musim yang normal dan penuh dengan daya tarik maka akan meningkatkan
permintaan.
7. Calon konsumen tidak dapat
mencoba atau mencicipi produk yang akan dibeli. Calon wisatawan hanya dapat
melihat dari internet, brosur, majalah, slide, TV atau film yang dibuat khusus
untuk itu.
8. Kualitas produk sangat bergantung
pada tenaga manusia yang tidak dapat digantikan dengan mesin.
2.3 Implikasi Karakteristik Produk
Wisata Terhadap Strategi Pemasaran
Secara jujur dapat dikatakan bahwa
pemasaran pariwisata secara relatif dirasakan lebih sulit dilakukan
dibandingkan dengan memasarkan barang yang berwujud (tangible
product). Hal itu diakibatkan oleh karakteristik dari produk industri
pariwisata yang lebih bersifat intangible product.Selain sifatnya
yang tidak nyata tersebut, produk industri pariwisata juga inseperability atau
tidak dapat dipisahkan dari pemberi jasa itu; variability yang
berarti sangat beraneka rupa serta perishability dimana produk
tidak bertahan lama sehingga tidak dapat disimpan untuk penjualan
atau penggunaan di kemudian hari.
Karakteristik yang dimiliki oleh
produk wisata tersebut berimplikasi terhadap strategi
pemasaran. Sebagaimana dilihat bahwa pemasaran masa kini
berorientasi kepada konsumen dengan titik berat pada inovasi produk di satu
sisi dan kebutuhan konsumen di lain pihak. Keberhasilan dalam memasarkan produk
yang abstrak tersebut sangat tergantung pada strategi pemasaran yang
diterapkan. Itulah sebabnya maka perlu dilakukan segmenting, targeting,
positioningdan marketing mix.
2.3.1 Segmenting
Suatu daerah yang memiliki
dilengkapi dengan prasarana dan sarana kepariwisataan yang memadai berpotensi
untuk dikembangkan menjadi suatu destinasi wisata. Akan tetapi wisatawan tidak
datang dengan sendirinya, diperlukan upaya untuk mengaktualisasikan kedatangan
wisatawan tersebut yang disebut dengan pemasaran pariwisata.
Sebelum mengadakan pemasaran
wisata, hal yang perlu dilakukan yaitu menentukan daerah sumber wisatawan yang
disebut ’pasar wisata’ dan pasar wisata itu harus dianalisis sebelum digarap.
Analisis pasar diperlukan untuk menentukan potensi pasar yaitu untuk menentukan
jenis permintaan yang ada di pasar wisata, berupa bentuk dan harga perjalanan
wisata yang dikehendaki oleh pasar. Satu hal lagi yang harus dilakukan sebelum
menganalisis pasar. Yang hendak dianalisis itu adalah pasar yang mana yang
ditentukan untuk digarap dalam pemasaran.
Dalam sebuah pasar wisata atau
daerah sumber wisatawan ada golongan-golongan atau kelompok-kelompok orang
(segmen/pasar), yang karena kondisinya yang berbeda-beda dalam usaha pemasaran
harus didekati secara berbeda-beda pula. Oleh karena itu pemasaran yang efektif
harus disesuaikan dengan segmen/pangsa pasar kepariwisataan yang terdiri atas
orang-orang dengan kondisi yang sama.
Secara
sederhana pengertian segmentasi pasar adalah membagi-bagi pasar sesuai dengan
sifat dan karakterisitik pasar atau sesuai perilaku konsumen yang terdapat
dalam pasar, yaitu kelompok-kelompok orang calon konsumen yang berdasarkan
indikator geografis, sosio-profesional, dan indikator motivasi wisata memiliki
permintaan semacam. Segmentasi pasar ini diperlukan karena: (1) pasar yang
bersifat heterogen, (2) untuk menentukan potensi penjualan dan
provit, serta (3) menentukan intensitas penjualan.
2.3.2 Targeting
Sesudah segmentasi pasar
teridentifikasi dan profilnya terbentuk, sudah mulai bisa ditentukan satu
segmen atau beberapa segmen yang akan diambil dan dipersiapkan pelayanannya.
Keputusan tentang target pasar merupakan bagian dari strategi pemasaran yang
memberikan pijakan untuk menentukan tujuan dan pengembangan
strategi positioning. Oleh karena itu dalam aplikasinya
pemilihan target pasar merupakan aktivitas yang sangat kompleks dan perlu
dilakukan konsultasi dengan bagian perencanaan pemasaran strategis.
Pemilihan target pasar
bagi suatu produk terdiri atas beberapa alternatif yang meliputi:
1. Un-differentiated market
Di sini pasar
dianggap sebagai kumpulan orang-orang dengan menekankan pada karakteristik umum
dan mengharapkan semua orang akan membeli produk yang ditawarkan. Semua
wisatawan dari mana saja dan dari kelompok mana saja diharapkan membeli produk
wisata yang ditawarkan.
2. Concentrated market
Disebut juga sebagai single
segmenting karena hanya mengharapkan kelompok atau segmen tertentu
saja yang diharapkan membeli produk yang akan ditawarkan. Jadi di sini suatu
DTW hanya akan mengandalkan segmen pasar tunggal dan kepada segmen inilah
kegiatan pemasaran dan promosi akan difokuskan.
3. Extensive segmenting
Pada segmentasi ekstensif ini
pasar homogen itu dibagi dalam bermacam-macam segmen dasar dan selanjutnya
produk wisata ditawarkan kepada segmen pasar yang berbeda dengan strategi
pemasaran yang berbeda pula. Konsekuensinya jika menggunakan pendekatan ini
adalah memerlukan biaya pemasaran yang lebih besar karena tiap segmen
memerlukan kegiatan pemasaran dan promosi yang berbeda pula.
4. Selective
segmenting
Berbagai
segmen pasar yang variatif seperti pada extensive segmenting, perlu
dipilih atau diseleksi segmen pasar yang dianggap memiliki potensi pasar yang
besar. Segmen pasar pilihan tersebutlah yang dikembangkan untuk dijadikan
target pasar.
2.3.3 Positioning
Setelah menentukan target pasar,
langkah selanjutnya yang dilakukan adalah memposisikan (positioning) suatu
produk pada target pasar yang diharapkan datang. Positioningdiartikan
sebagai usaha menciptakan image dan dalam bahasa sehari-hari dikenal dengan
istilah ’memposisikan’. Positioning dapat dikatakan sebagai
usaha menyelaraskan suatu produk terhadap gaya hidup konsumen. Sedangkan kata
’memposisikan’ suatu produk wisata dapat diartikan menempatkan produk yang
dimaksud dalam ingatan atau pikiran wisatawan melalui cara-cara tertentu
(iklan).
Yang perlu diingat bahwa ketika
melaksanakan suatu positioning suatu industri pariwisata harus
terus mencari keinginan dan kebutuhan wisatawan yang belum terpenuhi oleh suatu
daerah atau dengan pemaknaan yang berbeda
menghindari memposisikan diri di antara segmen yang ada. Jika
kondisi mengharuskan untuk melayani dua segmen yang sama sekaligus,
hindari menggunakan strategi yang sama karena strategi yang berhasil dengan
baik bagi suatu segmen tertentu tidak bisa dialihkan pada segmen
lain.
2.3.4 Marketing mix
1 Produk
Setelah mengadakan penelitian
pasar hal pertama yang dilakukan dalam kegiatan pemasaran adalah membuat produk
sesuai dengan permintaan pasar dan motif perjalanan wisata. Karena produk
wisata bersifat abstrak dan tidak mempunyai standar yang baku dalam
penilainnya maka produk yang dihasilkan harus unik, khas, berbeda dan harus
selalu dijaga mutunya. Keaslian dari produk yang ditawarkan harus dipertahankan
sehingga para wisatawan hanya dapat melihatnya atau menikmatinya di tempat
tersebut dan menyaksikannya secara natural. Selain itu keseluruhan pelayanan
yang diberikan hendaknya merupakan suatu ’tampilan’ yang berbeda tetapi
memuaskan bagi wisatawan.
’Tampilan’ produk yang tidak
berhasil harus segera diperbaiki untuk mencari ’differential advantage’ yaitu
keuntungan dalam perbedaan dengan mengadakan perubahan ’tampilan’ produk yang
dihasilkan. Bilamana produk yang ditawarkan oleh industri pariwisata dianggap
sama oleh wisatawan maka perbedaan yang menguntungkan terletak pada’tampilan
produk’ yang dimiliki. Oleh karena itu diperlukan suatu seni untuk mengolah
suatu produk wisata sedemikian rupa sehingga menarik untuk dikunjungi
wisatawan.
Pada prakteknya kebijaksanaan
produk harus diingat juga bahwa suatu produk mempunyai umur
tertentu. Produk yang semula menarik makin lama makin turun mutunya dan pada
akhirnya ditinggalkan. Jika wisatawan yang berkunjung ke tempat tersebut
mengalami penurunan maka harus segera melakukan peremajaan sebelum mengalami
masa stagnasi.
2. Harga
Calon wisatawan yang ingin
melakukan perjalanan wisata hanya akan mewujudkan keinginannya jika biaya yang
harus dikeluarkan sesuai dengan kemampuannya. Karena itulah daerah tujuan
wisata harus melakukan kebijaksanaan harga dengan membuat produk
yang mampu dijangkau oleh wisatawan. Kebijaksanaan harga berusaha menentukan
harga yang tepat sehingga seimbang dengan daya beli pasar dan menarik bagi
calon wisatawan.
Harga yang dianggap pantas
memberikan kepuasan yang optimal kepada wisatawan. Kadangkala suatu paket
wisata dapat saja mahal dibandingkan dengan harga yang berlaku di destinasi
lain, tetapi sepanjang kualitas paket wisata jauh lebih unggul bagi wisatawan
justru lebih berkesan. Kepuasan wisatawan dengan harga yang
kompetitif tersebut bisa dicapai apabila suatu destinasi dapat
memberikan kemudahan kepada wisatawan dalam melakukan perjalanan wisata, objek
dan daya tarik yang dimiliki suatu destinasi sesuai dengan ekspektasi wisatawan
dan kualitas pelayanan yang diberikan sesuai dengan yang diharapkan atau bahkan
lebih dari yang mereka inginkan.
Jika dibandingkan dengan
destinasi lain, harga produk wisata di Indonesia masuk dalam kategori murah
karena rendahnya nilai mata uang rupiah dibandingkan dengan dollar. Dari segi
pemasaran ini merupakan peluang. Untuk menghindari kesan produk yang ditawarkan
murahan maka perlu ditetapkan harga yang sesuai dengan mata uang calon
wisatawan yang disasar. Namun konsekuensinya produk yang dihasilkan harus
terstandarisasi.
3. Distribusi
Salah satu ciri dari produk
wisata adalah tidak dapat dipindahkan. Implikasinya dalam bidang pemasaran
calon wisatawan harus datang dan penghasil produk wisata harus mendatangkan
mereka dengan alat transportasi yang canggih, memberikan kenyamanan, jadwal
kedatangan dan pemberangkatan yang tepat waktu dan bandara yang memiliki
fasilitas yang komplit termasuk untuk orang cacat. Hal mendasar lainnya adalah
penggunaan teknologi tinggi dan sumber daya manusia pariwisata yang memiliki
kompetensi dalam hal pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang baik dalam
melayani wisatawan.
Produk wisata tidak dapat
didistribusikan secara fisik. Kebanyakan produk wisata merupakan suatu gambaran
yang akan ditemui oleh wisatawan di daerah tujuan wisata. Gambaran tentang
produk wisata itulah yang disebut dengan citra pariwisata (tourist image).
Citra pariwisata tersebut yang didistribusikan dalam bentuk audio, visual atau
kombinasi antara keduanya. Citra pariwisata ini harus sesuai dengan apa yang
diharapkan oleh konsumen. Citra yang tidak sesuai dengan kenyataannya akan
menimbulkan kekecewaan wisatawan. Membentuk citra yang bagus bukan pekerjaan
yang mudah karena terkait dengan karakteristik produk wisata yang sangat
subjektif dan tidak mempunyai standar baku. Impilikasinya jelas terlihat pada
tidak semua wisatawan memberikan penilaian yang sama dan menyukai produk yang
dijual.
Distribusi produk wisata bisa
dilakukan secara langsung oleh produsen jasa angkutan wisata, akomodasi dan
atraksi kepada wisatawan, tour operator dan
organisasi-organisasi tertentu. Selain itu ada juga distribusi yang tidak
langsung ialah dari tour operator kepada konsumen melalui agen
perjalanan atau cabangnya sendiri, dan dari organisasi ke konsumen secara
langsung atau melalui agen perjalanan.
Dalam bisnis pariwisata yang
produknya intangibility, inseperability, variability dan perishability peranan
dari travel agent, biro perjalanan dan tour operator sangat
penting. Dapat saja calon konsumen membeli sendiri produk secara eceran tapi
menghabiskan banyak energi, waktu dan biaya. Jauh lebih murah dan menguntungkan
jika melakukan perjalanan melalui tour operator. Suatu destinasi
yang tidak menunjuk perantara dalam menginformasikan produk atau menjual paket
wisata tidak akan memperoleh hasil yang maksimal. Kegiatan pariwisata akan
lumpuh bila para perantara ini tidak mampu mengemas produk yang inovatif.
4. Promosi
Unsur keempat dari bauran
pemasaran adalah promosi. Promosi ini tidak bisa diabaikan mengingat sifat
produk wisata yang tidak dapat dicicipi. Promosi terdiri dari bermacam-macam
komunikasi yang dilakukan untuk menyampaikan informasi dan meyakinkan atau
membujuk calon wisatawan potensial untuk melakukan perjalanan wisata. Adapun macam kegiatan promosi yang dilakukan
adalah advertising, personal selling, sales promotion, brochure printing,
public relation dan publicity. Tanpa kegiatan promosi, sebaik apapun
kualitas yang dimiliki suatu produk, semurah apapun paket wisata yang
ditawarkan dan dijual oleh tour operator, travel agentatau biro
perjalanan ternama, tetapi jika tidak diketahui oleh khayalak ramai maka akan
sia-sia.
Calon wisatawan dari berbagai negara asal perlu
diberikan informasi yang lengkap terutama tentang aksesibilitas, sarana dan
prasarana pariwisata, serta objek dan daya tarik wisata yang dapat
dilakukan (something to do), dapat dilihat (something to
see), dan dapat dibeli (something to buy). Apabila informasi tentang hal
tersebut efektif dan mencapai sasaran maka akan tercapai sasaran dari promosi
yaitu lebih banyak wisatawan datang ke suatu destinasi, lebih lama tinggal dan
lebih banyak mereka membelanjakan uangnya.
Kegiatan promosi yang dilakukan
harus dilakukan secara berkesinambungan dan menggunakan media promosi yang
bervariasi dan terkini. Yang perlu mendapat perhatian juga seberapa sering
promosi itu harus dilakukan. Bagi suatu destinasi yang masih dalam tahapintroduction,
intensitas promosi harus ditingkatkan dengan tujuan agar wisatawan lebih banyak
mengetahui keberadaan objek tersebut. Suatu destinasi yang berada pada
tahap growth promosi tidak perlu gencar dilakukan. Yang paling
penting dipahami adalah tujuan promosi destinasi yang berada pada fase ini
menanamkan image pada wisatawan dan membangkitkan kenangan bagi wisatawan yang
pernah mengunjunginya. Namun daerah yang berada pada fase saturation ataudecline promosi
juga harus mulai digalakkan lagi untuk memperkenalkan produk inovatif yang
membedakannya dengan produk yang sebelumnya.
2.3.5 Jasa purnajual
Wisatawan sesudah menikmati
perjalanannya mendapatkan pengalaman yang beraneka ragam. Tugas kegiatan
purnajual di bidang pariwisata adalah melakukan tindakan-tindakan yang dapat
memperpanjang atau membangkitkan kembali rasa senang dan puas wisatawan yang
diperoleh saat melakukan perjalanan wisata dan membangkitkan nostalgia akan
pengalaman tersebut.
Usaha untuk membangkitkan kembali
kenangan wisatawan tersebut dilakukan dengan menyediakan cideramata. Oleh
karena itu cenderamata yang diperoleh wisatawan hendaknya tidak mudah rusak
yang menyebabkan wisatawan ketika melihatnya membangkitkan kembali
pengalamannya di masa lampau. Hal lainpun bisa dilakukan dengan
membuat ’kelab’ (club) di suatu daerah tertentu bagi wisatawan yang
melakukan kegiatan wisata yang khas. Anggota kelab pada kurun waktu tertentu
mengadakan reuni atau kegiatan lainnya. Saat mereka berkumpul tersebut
pengalaman lama muncul kembali. Contoh dari pelayanan
purnajual ini dilakukan Club Med dengan membentuk ’Club
Mediterranee’.
Kegiatan untuk memelihara ingatan
wisatawan terhadap pengalaman masa lalunya memiliki nilai pemasaran. Rasa
nostalgia yang dimiliki seseorang cenderung menjadi kuat yang mendorongnya
untuk melakukan perjalanan yang sama. Kondisi inilah yang dimanfaatkan biro
perjalanan untuk mengadakan publikasi dan promosi yang bertujuan merangsang
mereka mengadakan perjalanan kembali. Jasa purnajual ini menuntaskan semua
aktivitas pemasaran.
III. SIMPULAN
DAN SARAN
Simpulan
Membicarakan industri pariwisata
berarti membahas tentang keberagaman produk yang tergabung dalam satu paket
yang satu sama lain tidak terpisah. Produk yang membentuk industri pariwisata
tersebut meliputi: objek dan daya tarik wisata, sarana dan prasarana
kepariwisataan dan aksesibilitas. Industri pariwisata juga tidak
berdiri sendiri melainkan lintas sektoral, dalam artian
bahwa instansi pemerintah juga terlibat di dalamnya.
Produk yang dihasilkan oleh suatu
destinasi harus dijual, dengan kata lain harus ada upaya untuk
mengaktualisasikan kedatangan wisatawan yang disebut dengan pemasaran
pariwisata. Dalam memasarkan produk wisata diberi perlakukan yang berbeda
dengan memasarkan barang yang berwujud karena sebagian besar produk wisata
berupa jasa atau layanan yang bersifat intangible,inseperability serta perishability. Karakteristik
yang dimiliki oleh produk wisata tersebut berimplikasi terhadap strategi
pemasaran yang dipergunakan. Keberhasilan suatu produk yang ditawarkan sangat
tergantung kepada unsur segmenting, targeting, positioning dan marketing
mix.
Kegiatan pemasaran dimulai dengan
identifikasi pasar yaitu mengetahui keinginan, kebutuhan, dan permintaan
wisatawan terhadap produk. Kemudian penentuan satu segmen atau beberapa segmen
yang akan diambil lalu memposisikan (positioning) suatu produk pada
target pasar yang diharapkan datang. Hal yang terakhir yaitu melaksanakan
bauran pemasaran yang meliputi kebijakan produk, harga, distribusi dan promosi.
Simpulan lain bahwa jasa
purnajual yaitu melakukan tindakan-tindakan yang dapat memperpanjang atau
membangkitkan kembali rasa senang dan puas wisatawan yang diperoleh saat
melakukan perjalanan wisata dan membangkitkan nostalgia akan kenangan mereka
merupakan aktivitas yang menuntaskan semua aktivitas pemasaran.
Saran
Mengingat
kompleksitas dan uniknya karakteristik yang dimiliki oleh produk wisata maka
harus diterapkan strategi pemasaran yang tepat. Berkaitan dengan hal tersebut
saran yang diberikan yaitu:
1. Dalam melakukan pemasaran
hendaknya memulai dengan penentuan pasar. Selama ini kegagalan pemasaran karena
pemasar memulainya dengan produk bukan pasar.
2. Indonesia memiliki keanekaragaman
produk wisata namun dana untuk pengelolaan terbatas. Mensiasati hal tersebut
pemasar harus melakukan strategi promosi dengan mengintensifkan produk mana
yang akan disasar.
3. Perlunya mengintensifkan
pelayanan purnajual karena jika layanan purna jual ini sukses
dilakukan maka akan mendatangkan new market terutama
lewat word to mouth promotion.
4. Pemasaran yang berhasil harus
menghasilkan wisatawan dan SDM yang berkualitas, produk yang berkelanjutan dan
adanya keseimbangan antara wisatawan, pengusaha dan masyarakat. Untuk mencapai
hal tersebut, industri pariwisata hendaknya mempersiapkan sumber daya manusia
yang berkompetensi tinggi, melakukan diversifikasi produk, memberikan harga
yang kompetitif dan promosi yang dilakukan secara intensif.
SELESAI JJJ

No comments:
Post a Comment